TUGAS MATA KULIAH
BUDIDAYA MOLUSKA DAN RUMPUT LAUT
“Pemeliharaan Larva Kerang Mutiara
Pinctada maxima”
Disusun oleh:
Kelompok 9
Muhammad Nur Sihabuddin 26010212130078
Kukuh Seto Pambudi 26010212140070
Faruq Abdurrahman 26010212140095
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tiram mutiara (Pinctada maxima) merupakan komoditas perdagangan internasional yang harganya mahal dan sukar dijanngkau oleh golongan ekonomi menengah kebawah. Indonesia sebagai salah satu produsen mutiara dunia patut dibanggakan, terutama karena mutiara yang diproduksi merupakan jenis south sea pearl. Mutiara jenis ini hanya dihasilkan dari kerang jenis Pinctada maxima dan merupakan jenis mutiara termahal di dunia (Sujoko, 2010). Jenis kerang penghasil mutiara antara lain Pinctada margaritifera, P. maxima, P. fucata, Pteria sternia, dan Pteria penguin. Adapun yang dikembangkan di Indonesia adalah P. maxima, P. margaritifera, dan P. penguin (Sutaman, 1993; Winanto, 2004).
Sebagian besar produksi tiram mutiara merupkan hasil tanngkapan alam yang dilakukan dengan penyelaman. Usaha memburu mutiara asli dari alam sudah berkembang lebih dari 2000 tahun yang lalu di Asia Selatan seperti di Samudra Hindia, Pasifik Selatan, Laut merah, Teluk Persia dan perairan sekitar Srilangka. Namun usaha pembudidayaannya baru dimulai pada abad ke-13 yaitu di Provinsi Kiangsu, Sanghai Utara dengan menggunakan kerang/remis air tawar sebagai inti (nukleus). Berkembangnya budidaya mutiara ternyata menjadi pemicu meningkatnya permintaan spat dan kerang mutiara siap operasi. Namun spat yang berasal dari alam jumlahnya terbatas, sangat fluktuatif dan dipengaruhi musim (Winanto, 1996). Produksi melalui hacthery merupakan pendekatan yang paling memungkinkan dalam penyediaan spat (Rupp et al., 2005).
Pada mulanya, teknologi pembenihan kerang mutiara terkesan “rahasia” karena hanya dikuasai oleh teknisi-teknisi asing yang kebanyakan dari Jepang bekerja di hatchery (tempat pembenihan). Kerang mutiara juga masih terbatas pada perusahaan besar yang kebanyakan PMA (Penanam Modal Asing). Menjelang tahun 2000, berkembanglah hatchery yang dimiliki oleh pengusaha lokal dan dikerjakan oleh tenaga domestik akan tetapi berbagai teknologi pembenihan hatchery masih belum dikuasai perusahaan lokal (Sujoko, 2010).
Sulitnya dalam budidaya kerang mutiara juga karena Survival Rate pada saat stadia larva sangat rendah, sehingga perlu dilakukan pendekatan yang adaftif terhadap budidaya kerang mutiara. Menurut Hamzah (2008) bahwa persentasi kelangsungan hidup larva kerang mutiara (Pinctada maxima) yang menempel pada kolektor dan dinding bak adalah bervariasi antara 8,71-28,57% dengan nilai rerata sebesar 15,27% dari jumlah yang ditebar sebanyak 1.400 larva. Hasil penelitian Hamzah (2013) diperoleh persentasi kelangsungan hidup rata-rata sebesar 4,76% dari jumlah yang ditebar sebanyak 5.000 larva. Marzuky (2010) diperoleh persentasi kelangsungan hidup larva antara 15,73-28,13% (5.330-11.000 larva) dari jumlah yang ditebar sebanyak 36.700 larva.
Mengingat permasalahan tersebut maka perlu adanya intensifitas penelitian dan kajian lebih lanjut dalam mengembangkan budidaya kerang mutiara. Terutama pada saat pemeliharaan larva, karena pada stadia ini sangat kritis dan rentang dengan kematian. Sehingga perlu diketahui teknik-teknik dan tata cara yang sesuai dengan pemeliharaan larva kerang mutiara seperti di alamnya.
B. Perumusan Masalah
1. Permasalahan apa saja yang dapat mengakibatkan rendahnya dan atau sulitnya dalam pemeliharaan kerang mutiara pada saat stadia larva.?
2. Bagaimana cara untuk meminimalisir sulitnya pemeliharaan kerang mutiara pada saat stadia larva.?
3. Bagaimana cara untuk meningkatkan nilai Survival Rate kerang mutiara pada saat stadia larva.?
C. Tujuan
1. Mengetahui permasalahan apa saja yang dapat mengakibatkan rendahnya dan atau sulitnya dalam pemeliharaan kerang mutiara pada saat stadia larva.
2. Mempelajari bagaimana cara untuk meminimalisir sulitnya pemeliharaan kerang mutiara pada saat stadia larva.
3. Mengetahui bagaimana tata cara untuk meningkatkan nilai Survival Rate kerang mutiara pada saat stadia larva.
I. ISI
A. Pemeliharaan Larva Tiram Mutiara (Pinctada maxima)
Pemeliharaan larva hingga spat dapat berhasil apabila di perhatikan terjadinnya stadia-stadia kritis (Winanto, 2004). Selama pertumbuhan, larva mengalami tiga masa krisis. Pertama, pada fase D, yaitu pertama kali larva mulai makan sehingga perlu di sediakan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva. Kritis kedua, terjadi pada fase umbo. Kondisi larva sangat sensitif karena mengalami metamorfosis. Tandanya adalah terdapat penonjolan umbo, terutama fase umbo akhir atau fase bintik hitam (eye spot) atau fase pedifeliger. Fase kritis yang terakhir adalah fase pantigride, larva mengalami perubahan kebiasaan hidup dari sifat plantonis (spatfal) menjadi spat yang hidupnya menetap (sesil bentik) di dasar.
Pemeliharaan larva di mulai sejak larva mencapai stadia D, kira-kira 18-20 jam setelah pembuahan. Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharaan larva antara lain:
1. Air di dalam tanki dikeluarkan melalui saluran outlet.
2. Air yang keluar disaring dengan saringan planktonnet 44, 90, dan 125 yang disusun.
3. Larva yang tersaring dipindahkan ke dalam ember yang berisi 20 liter air laut yang sudah melewati saringan 1 mikron UV.
4. Air yang berisi larva diaduk dengan hati-hati dan ambil sample larva dengan menggunakan pipet sebanyak 1 cc lalu taruh sample larva di atas alat penghitung larva.
5. Taruh alat penghitung larva di mikroskop.
6. Hitung jumlah larva.
7. Tebar kembali larva ke dalam tanki pemeliharaan yang sudah berisi air laut (sudah melewati saringan 1 mikron UV) dan sudan diberi larutan EDTA dan calsium (perbandingan 0,5 : 1 liter).
8. Hidupkan aerasi dengan tekanan kecil.
9. Pakan diberikan 2 kali sehari (pagi dan malam).
10. Setiap 2 hari sekali air di dalam tanki pembesaran larva di ganti.
B. Perkembangan Larva Kerang Mutiara (Pinktada maxima) Versi Winanto (2004)
1. Perkembangan Awal
Perkembangan awal telur sampai larva yang terjadi pada pemijahan ini adalah, proses pembelahan sel yang terjadi setelah ± 50 menit pembuahan. 20 menit kemudian sel membelah menjadi dua, lalu 35 menit berikutnya sel membelah menjadi 4 sel, 8sel, 16 sel, 32 sel sampai membelah menjadi multi sel. Fase morula dicapai setelah 3 jam. Fase blastula dicapai setelah larva berumur 3,3 jam, pada fase ini gerakan larva mulai aktif berputar-putar, kemudian fase selanjutnya adalah fase grastula. Pada fase grastula, larva ini mulai dipindahkan dari wadah volume 30 liter kedalam bak penetasan dengan volume 5 ton sebanyak 8 buah. bak ini sekaligus sebagai bak pemeliharaan larva.
2. Perkembangan Larva
Pada perkembangan larva terdapat beberapa masa kritis yang harus dilalui dari larva hingga menjadi spat, yaitu:
a. Fase Veliger
Pada fase ini, wadah pemeliharaan mulai diberi aerasi yang kecil. Fase veliger atau larva bentuk D (D-shape) dicapai setelah larva berumur 21,5 jam. Hal ini tidak jauh beda dengan apa yang dikemukakan oleh Winanto (2004) bahwa, fase veliger atau larva bentuk D dicapai setelah larva berumur antara 18-20 jam dan berukuran 70 µ x 80 µ. Pada fase ini larva mulai diberi pakan mikroalga. Pada fase veliger, perkembangan larva mulai menyebar pada bagian pertengahan dan permukaan media pemeliharaan. Hal yang sama apa yang diungkapkan oleh Winanto (2004) bahwa, larva fase veliger bersifat fotopositif sehingga tampak berenang-renang dipermukaan air. Pada fase ini ditandai dengan mulai tumbuhnya organ mulut, pencernaan, larva mulai makan dan tubuhnya mulai ditutupi oleh cangkang tipis, serta secara bertahap cangkang ini akan berkembang. Fase ini merupakan masa kritis yang pertama karena larva pada saat ini mulai makan sehingga perlu penyesuaian dengan bukaan mulut larva
b. Fase Umbo
Setelah 12-15 hari, larva, larva mulai mengalami metamorfosis menjadi fase umbo dengan ukuran 130µ-136µ yang ditandai dengan adanya tonjolan (umbo) pada bagian dorsal. Larva pada fase ini, dicirikan oleh keadaan tubuh yang sehat, mempunyai aktifitas gerakan yang aktif dengan cara berputar-putar menggunakan silianya serta menyebar merata pada lapisan permukaan dan tengah air, serta mempunyai warna perut yang sesuai dengan pakan yang diberikan. Hal yang sama juga dengan apa yang dikemukaan oleh Winanto (2004). Pakan yang dikonsumsi adalah Isocrisis galbana dan Pavlova lutheri maka larva yang sehat akan banyak makan (kenyang) sehingga perutnya berwarna kuning tua, larva yang cukup makan (sedang) bagian perutnya berwarna kuning, dan yang tidak mau makan perutnya berwarna kuning mudah. Warna pada bagian perut larva ini karena didominasi oleh warna jenis pakan yang dimakan serta jumlah yang dikonsumsinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Winanto (2004), bahwa warna perut larva dapat bervariasi tergantung jenis pakan yang dikonsumsinya. Pemeriksaan warna pada bagian perut larva ini dengan mengunakan mikroskop.
c. Fase Pediveliger
Perkembangan larva terjadi secara bertahap. Pada akhir masa umbo larva mengalami perubahan menjadi fase pediveliger dengan ukuran antara 200µ-230µ pada hari ke 16 dan 17. Fase ini ditandai dengan timbulnya kaki (pedi), dan terlihat adanya bintik hitam (eye spot) yang berada dibawah primordial kaki serta lembaran-lembaran insang. Fase ini merupakan masa kritis yang ke dua karena larva mulai mencari tempat untuk menempel dan menetap, sehingga untuk keperluan ini larva memerlukan energi ekstra.
d. Fase Plantigrade
Setelah larva berumur 19-22 hari larva mencapai fase pantigrade dengan ukuran 230µ-210µ yang ditandai dengan tumbuhnya cangkang baru dan tumbuhnya byssus untuk menempel pada substrat. Byssus adalah organ tubuh yang bentuknya seperti rambut atau serat yang berwarna hijau kehitaman. Byssus dihasilkan dari sekresi cairan benang byssus, yaitu proses gerakan berenang dan kebiasaan berputar-putar sehingga cairan akan mengalir keluar dari lubang pada kaki dan segera akan mengeras saat beraksi dengan air laut. Ini adalah masa kritis yang cukup ekstrim pada larva, aksi penempelan ini diawali dengan gerakan menurun (fase planktonis), kemudian menuju kedasar perairan dengan disertai gerakan berenang dan berputar-putar akhirnya keluarnya benang byssus agar dapat menempel pada substrat. Inilah pertanda dimulainya larva hidup menetap didasar. Jika tidak ditemukan substrat yang baik bagi kehidupannya, maka biasanya larva akan cenderung menunda periode untuk menempel atau menetap. Hal yang sama juga dengan pendapat yang dikumukakan oleh Winanto (2004).
C. Perkembangan Larva Kerang Mutiara (Pinktada maxima) Versi Tjahjo (2004)
1. Perkembanga awal larva tiram mutiara (Pinctada maxima)
Proses pembelahan sel terjadi setelah 40 menit pembuahan atau setelah penonjolan polar I dan polar II. Lima menit kemudian sel mulai membelah menjadi 2 sel, lalu 13 menit berikutnya sel membelah menjadi 4. Pembelahan berikutnya menjadi 8 sel, 16 sel, 32 sel, dan sel terus membelah menjadi multisel atau mencapai fase morulla setelah 2,5 jam. Pada setiap mikromernya (bagian organ tubuh) berkembang sila kecil-kecil yang berfingsi membantu embrio bergerak. Fase blastula dicapai setelah larva berumur 3,5 jam. Pada fase gastrula (umur 7 jam) bentuknya seperti kacang hijau, bersipat fotogenetik, dan bergerak menggunakan silia. Beberapa menit setelah sislia menghilang, fase gastrula berakhir dan selanjutnya bermetamorfosis menjadi trochofor.
2. Perkembangan larva tiram mutiara (Pinctada maxima)
Di dalam perkembangan larva tiram mutiara (Pinctada maxima) terdapat 5 fase metamorfosis, antara lain :
a. Fase Veliger atau larva bentuk D (D shape)
Dicapai setelah larva berumur 18-20 jam. Pada fase ini larva mulai diberi pakan mikroalga. Larva fase veliger bersifat fotopositif sehingga tampak berenang-renang di sekitar permukaan air.
b. Fase Umbo
Dicapai setelah larva berumur 12-14 hari, ditandai dengan adanya tonjolan (umbo) pada bagian dorsal. Pada fase ini padat penebaran di kurangi dengan jumlah 3-5 ekor /cc.
c. Fase Bintik Hitam (eye spot)
Dicapai setelah larva berumur 16-17 hari, posisi eye spot berada di sebelah bawah primordial kaki.
d. Fase Pediveliger atau Umbo akhir
Dicapai setelah larva berumur 18-20 hari. Pada fase ini larva mulai mencari tempat untuk menempel atau menetap.
e. Fase Plantigrade
Dicapai setelah larva berumur 20-22 hari. Ditandai dengan tumbuhnya cangkang baru sepanjang pripheri dan memperoduksi benang-benang bisus untuk menempelkan diri pada substrat
D. Jenis-Jenis Phytoplankton Pakan Larva Tiram Mutiara
Pemberian pakan alami ini disesuaikan dengan umur larva. Pakan alami ini apabila dilihat secara visual, terlihat bahwa ukuran tetrasilmis chuii yang paling besar diantara jenis lainnya. Sedangkan Pavlova lutheri, Isochrysis galbana dan Nannochloropsis sp. ukurannya lebih besar dibandingkan dengan Chaetocheros amami. Pakan alami jenis Pavlova lutheri, Isochrysis galbana dan Nannochloropsis sp. lebih baik digunakan untuk diberikan pada larva yaitu periode awal dalam pemeliharaan larva tiram mutiara. Hal ini disebabkan karena jenis pakan alami ini ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan jenis lainnya sehingga sesuai dengan bukaan mulut larva tiram mutiara. Menurut Winanto et al. (2001) bahwa, pada stadia awal larva yaitu stadia bentuk D, tiram mutiara mulai diberikan makanan mikro alga berupa Pavlova sp. dan Isocrysis galbana. Sedangkan jenis Chaetoceros amami dan Tetraselmis chuii diberikan setelah larva tiram mutiara menempel pada spat kolektor.
Menurut Tjahjo (2004) Setelah larva ditebar kembali ke dalam tanki pemeliharaan, larva sudah bisa mulai di berikan pakan berupa campuran alga dari jenis Chaetocerous calcitran, Chaetocerous gracilis, Chaetocerous simplex, Chaetocerous amami,Isochrysis galbana, Isochrysis Tahiti, Pavlova. Setiap 2 kali sehari larva di cek dengan menggunakan mikroskop, selama fase berenang dalam siklus hidup larva, hanya ada 3 parameter yang perlu di evakuasi, yaitu Warna usus harus coklat gelap dan seharusnya tidak boleh ada kekosongan dalam lingkaran usus, Pinggiran cangkang harus kelihatan garing dan bersih. Adanya kotoran di sepanjang pinggiran cangkang menandakan adanya kontaminasi bakteri dan miroorganisme lain yang dapat menyebabkan setres dan kematian masal dan pertumbuhan larva diperiksa setiap hari, selama tahap berenang rata-rata panjang cangkang menungkat antara 5-15 mikron setiap harinya. Pada saat larva sudah mencapai stadia umbo, ukuran saringan diganti dengan ukuran 90, 125, dan150 mikron. Pada fase ini kepadatan larva menjadi 2 kali lipat, sehingga kepadatan larva perlu di kurangi menjadi 6-7 juta larva / 5 ton air laut. (Tjahjo, 2004)
E. Pemeliharaan, Pendederan dan Pemanenan Spat
Terjadinya spat ditandai dengan terbentuknya garis lurus engsel serta berkembangnya bagian ujung bawah anterior dan posterior. Secara utuh bentuk spat seperti tiram dewasa, hanya garis-garis pertumbuhanya masih terlihat jelas. Menurut Winanto (2004) bahwa, beberapa faktor yang mempengaruhi kebiasaan atau kesukaan menempel spat adalah kedalaman, bentuk/posisi kolektor, dan permukaan substrat yang keras dan kasar. Kondisi awal spat ini merupakan masa yang sangat kritis karena byssusnya belum permanen.
Tempat pemeliharaan larva yang baik pada suhu dan salinitas optimum untuk larva P. maxima adalah 28 oC dan 32–34 ‰, kepadatan yang baik ± 200 ekor/liter, kepadatan yang tinggi akan berpengaruh pada pertumbuhan normal, bahkan dapat menimbulkan kematian (Sutaman, 1993). Selama pemeliharaan pergantian air sebanyak 50-100 %, setiap 2-3 hari atau sesuai kebutuhan (Winanto ec al, 2004).
Penempelan adalah proses tingkah laku yang ditunjukkan oleh larva fase akhir. Pada mulanya larva menggunakan kakinya untuk berenang dan bergerak berlahan-lahan saat akan menempel pada substrat. Jika jenis substrat yang di tempati cocok maka larva akan menempel. Selanjutnya akan terjadi proses metemorfosisi, yaitu larva berubah menjadi spat (jupenil). Secara keseluruhan proses ini disebut menempel (setting) atau periode spatfall (Tjahjo, 2004). Menurut Winanto (2004) juga bahwa, secara umum bahan kolektor yang baik yaitu tidak mengeluarkan senyawa kimia jika beraksi dengan laut, menarik minat spat untuk menempel, dan tidak mengganggu pertumbuhan. Pemanenan dilakukan pada tiram mutiara umur spat ini yaitu, selama 40 hari pemeliharaan dilaboratorium, kemudian didederkan ke laut dengan cara memasukkan kolektor yang berisi spat kedalam kantong waring.
F. Teknik Meningkatkan Kualitas dan Kecepatan Perkembangan Larva Kerang Mutiara (Pinctada maxima)
Berdasarkan hasil penelitian, pengamatan pertumbuhan larva kerang mutiara (P. maxima) pada stadia D larva (hari ke-2), umbo awal (hari ke-6), umbo akhir (hari ke-7), eye spot (hari ke-14), pediveliger (hari ke-15), plantigrade (hari ke-18). Pertumbuhan larva pada intensitas cahaya 0 lux merupakan pertumbuhan larva yang paling rendah dibanding dengan intensitas cahaya yang lain. Pertumbuhan tercepat pada hari ke (15-18) yaitu sebesar 105,89 μm. Namun bila dilihat data pertumbuhan larva hasil penelitian, pada setiap perlakuan perbedaan intensitas cahaya, ternyata pada intensitas cahaya 50 dan 100 lux cenderung lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan intensitas cahaya lainnya, walupun perbedaanya tidak terlalu mencolok.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa larva P. maxima menghendaki kondisi lingkungan pemeliharaan dengan intensitas cahaya yang sedang, artinya tidak terlalu tinggi dan bukan tidak terdapat cahaya sama sekali yaitu pada intensitas cahaya 50-100 lux. Hal ini dapat disimpulkan bahwa larva kerang mutiara bersifat fototaksis positif. Hasil ini juga dipertegas oleh pernyataan Alagarswami et al. (1987), larva tiram mutiara P. fucata mempunyai preferensi kondisi lingkungan dengan pencahayaan rendah dan untuk memanipulasi lingkungan digunakan wadah pemeliharaan yang berwarna gelap dan hasilnya larva menunjukkan perkembangan yang baik serta waktu penempelan yang cepat.
Dalam penelitian ini diperoleh informasi bahwa pertumbuhan larva kerang mutiara tertinggi pad
intensitas cahaya 50 dan 100 lux. Hal ini diduga berkaitan dengan laju metabolisme larva. Pada kondisi
dengan cahaya yang sesuai dengan kebutuhan yang tepat maka dapat meningkatkan ritme metabolisme larva,
sehingga larva dapat tumbuh dengan baik. Menurut Hamzah (2008), Hasil pengamatan perkembangan
embriogenesis larva kerang mutiara (Pinctada maxima) pada intensitas cahaya lampu pijar yang berbeda.
Didapatkan hasil penelitian sebagai berikut:
I. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pemeliharaan larva hingga spat dapat berhasil apabila di perhatikan terjadinnya stadia-stadia kritis. Selama pertumbuhan, larva mengalami tiga masa krisis. Pertama, pada fase D, yaitu pertama kali larva mulai makan sehingga perlu di sediakan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva. Kritis kedua, terjadi pada fase umbo. Kondisi larva sangat sensitif karena mengalami metamorfosis. Tandanya adalah terdapat penonjolan umbo, terutama fase umbo akhir atau fase bintik hitam (eye spot) atau fase pedifeliger. Fase kritis yang terakhir adalah fase pantigride, larva mengalami perubahan kebiasaan hidup dari sifat plantonis (spatfal) menjadi spat yang hidupnya menetap (sesil bentik) di dasar. Maka perlunya teknisi-teknisi yang berkompeten dalam bidang ilmu tersebut.
2. Tempat pemeliharaan larva yang baik pada suhu dan salinitas optimum untuk larva P. maxima adalah 28 oC dan 32–34 ‰, kepadatan yang baik ± 200 ekor/liter, kepadatan yang tinggi akan berpengaruh pada pertumbuhan normal, bahkan dapat menimbulkan kematian dan selama pemeliharaan pergantian air sebanyak 50-100 %, setiap 2-3 hari atau sesuai kebutuhan. Hal yang perlu dilakukan juga adalah pemebrian pakan harus sesuai dengan food habit serta ukurannya harus lebih kecil dari bukaan mulut larva.
3. Larva tiram mutiara P. fucata mempunyai preferensi kondisi lingkungan dengan pencahayaan rendah dan untuk memanipulasi lingkungan digunakan wadah pemeliharaan yang berwarna gelap dan hasilnya larva menunjukkan perkembangan yang baik serta waktu penempelan yang cepat. Dalam penelitian ini diperoleh informasi bahwa pertumbuhan larva kerang mutiara tertinggi pada intensitas cahaya 100-117 lux. Hal ini diduga berkaitan dengan laju metabolisme larva. Pada kondisi dengan cahaya yang sesuai dengan kebutuhan yang tepat maka dapat meningkatkan ritme metabolisme larva, sehingga larva dapat tumbuh dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah, M.S. 2008. Kelangsungan Hidup dan Perkembangan Larva Kerang Mutiara (Pinctada maxima) Dengan Pemberian Jenis Pakan Alami yang Berbeda. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Kelautan IV. Didik Hardianto dan Muh. Taufiqrrohman (eds.) Univ. Hangtuah 24 April 2008 Surabaya, hlm.:179-183.
________.2013. Daya Penempelan Larva Kerang Mutiara (Pinctada maxima) Pada Kolektor Dengan Posisi Tebar dan Kedalaman Berbeda. J. Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 5(1):60-68.
_______.2013. Intensitas Cahaya Lampu Pijar Terhadap Perkembangan Embriogenesis dan Kelangsungan Hidup Larva Kerang Mutiara (Pinctada maxima). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 5, No. 2, Hlm. 391-400
Marzuki, R. 2010. Pengaruh Pemberian Kombinasi Pakan Alami Dengan Jenis yang Berbeda Terhadap Perkembangan dan Kelulushidupan Larva Kerang Mutiara (Pinctada maxima) Dalam Bak Pendederan. Skripsi Fakultas Perikanan Univ. 45. 70hlm.
Rupp G. S., Parsons, G. J., Thompson, R. J., & de Bem, M. M., 2005. Influence of Environmental Factors, Season and Size at Development on Growth and Retieval of Postlarval Lion’s Paw Scallop Nodipecten nodusus (Linnaeus, 1758) From A Subtropical Environment. Aquaculture 243: 195-216.
Sujoko, A. 2010. Membenihkan Kerang Mutiara. Insan Madani. Yogyakarta.
Sutaman. 1993. Tiram Mutiara Teknik Budidaya dan Proses Pembuatan Mutiara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 128 hlm.
Tjahjo, M.Si., 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Penebar Swadaya.Jakarta. 95 hal.
Winanto, T. 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar