Senin, 02 Desember 2013

TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)

TUGAS MATA KULIAH
 TEKNIK PEMBENIHAN IKAN

TIRAM MUTIARA
(Pinctada maxima





Disusun oleh:
Muh. Nur Sihabuddin      26010212130078
Amanda Damai Setyani    26010212130080
     Muji Widjarnarko             26010212130081    




PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013


 I.      PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang
            Oyster atau lebih dikenal sebagai tiram mutiara termasuk bivalvia. Tiram mutiara dapat dimanfaatkan dalam kebutuhan konsumsi maupun kebutuhan non konsumsi. Dari segi konsumsi tiram mutiara dapat diambil dagingnya sebagai bahan pangan. Dari segi non konsumsi tiram mutiara diambil mutiaranya sebagai perhiasan. Permintaan yang tinggi dan teknik budidaya yang rumit membuat tiram mutiara termasuk pada komoditas ekonomi yang penting. Budidaya tiram mutiara dapat dijadikan solusi untuk pemenuhan kebutuhan mutiara yang tinggi, sehingga dapat mengurangi pengambilan dari alam.
            Menurut Saleh (2011), di Indonesia kegiatan budidaya tiram mutiara sudah cukup lama berkembang. Bahkan sampai pada saat ini ada lebih 65 perusahan, baik dalam bentuk modal asing maupun dalam bentuk modal dalam negeri. Tuntutan utama dalam budidaya mutiara adalah tersedianya tiram mutiara ukuran operasi dalam jumlah yang cukup, tepat waktu, dan berkesenambungan. Namun, keuntungan penyediaan tiram tidak mungkin hanya mengandalkan hasil penyelaman di alam, apalagi hasil penyelaman di alam sangat fluktuatif, tergantung musim, dan ukurannya tidak seragam. Mutiara yang ukurannya di bawah standar harus dipelihara sampai besar sehingga diperlukan waktu dan tambahan biaya yang tidak sedikit.
Mengingat lokasi budidaya di laut yang dipengaruhi oleh alam dan sekitarnya, sehingga membudidayakan tiram mutiara haruslah menyesuaikan dengan kondisi alam atau perairan sekitarnya sebagai tempat hidupnya dengan kehidupan biologis dan fisiologis dari tiram mutiara yang dipelihara, dengan tujuan agar tiram hidup dengan baik.

1.2. Perumusan Masalah
1.2.1.      Bagaimana cara pemeliharaan dan seleksi induk Tiram Mutiara.?
1.2.2.      Bagaimana teknik pemijahan Tiram Mutiara.?
1.2.3.      Bagaimana cara penetasan telur Tiram Mutiara.?
1.2.4.      Bagaimana cara pemeliharaan larva Tiram Mutiara.?
1.2.5.      Bagaimana cara pendederan Tiram Mutiara.?
1.2.6.      Bagaimana cara pemanenan Tiram Mutiara.?

1.3.Tujuan
1.3.1.      Untuk mengetahui cara pemeliharaan dan seleksi induk Tiram Mutiara.
1.3.2.      Untuk mengetahui teknik pemijahan Tiram Mutiara.
1.3.3.      Untuk mengetahui cara penetasan telur Tiram Mutiara.
1.3.4.      Untuk mengetahui cara pemeliharaan larva Tiram Mutiara.
1.3.5.      Untuk mengetahui cara pendederan Tiram Mutiara.
1.3.6.      Untuk mengetahui cara pemanenan Tiram Mutiara.





                                                       II.      ISI

2.1. Pemeliharaan Induk
            Induk kerang yang digunakan untuk pemijahan biasanya adalah induk hasil tangkapan dari alam yang telah didomestifikasi. Kerang yang digunakan dalam pemijahan adalah kerang yang benar-benar matang gonad (TKG IV) berdasarkan klasifikasi menurut (Chelman, 1987) dalam (Tomatala, 2011). Kerang yang telah dipilih kemudian dibersihkan dari biofouling yang menempel. Selain itu, dilakukan juga pengukuran kualitas air (suhu, salinitas, dan pH) dimana kerang tersebut ditangkap. Kerang yang telah dibersihkan kemudian dipisahkan antara jantan dan betina, kemudian diletakkan pada bak kaca serat dan diberi pakan berupa Tetraselmis sp. Sekitar 30 menit setelah pemberian pakan, kerang diambil dan diletakkan dalam keranjang dengan kepadatan 10 individu/keranjang.
            Pertumbuhan tiram mutiara sangat tergantung pada suhu air, salinitas, makanan yang cukup dan persentase kimia dalam air laut. Tiram mutiara dapat tumbuh dengan baik pada musim panas dimana suhu air tinggi. Tiram mutiara adalah protandrous-hermaphrodite dengan kecenderungan perbandingan jantan : betina = 1 : 1, dengan adanya peningkatan umur. Pemijahan sering terjadi akibat perubahan suhu yang ekstrem atau tejadi perubahan lingkungan yang tiba-tiba. Pemijahan tiram mutiara di perairan tropis tidak terbatas hanya satu musim, tapi bisa sepanjang tahun. P. Margaritifera mendekati matang gonad pada tahun kedua, sedangkan P. maxima jantan matang gonad setelah berukuran cangkang 110-120 mm dalam tahun pertama hidupnya. Pertumbuhan merupakan aspek biologi yang penting bagi pembudidaya terkait dengan pendugaan keberhasilan usahanya. Tiram mutiara P.margaritifera mencapai ukuran diameter cangkang 7-8cm dalam tahun pertama, dan mendekati ukuran sekitar 11 cm pada tahun kedua. Pertumbuhan jenis lain, P. maxima, mencapai diameter cangkang 10—16 cm pada tahun kedua (Sutaman, 1993).
            Cara makan tiram mutiara dilakukan dengan menyaring air laut dengan cara mengambil makanan dilakukan dengan menggetarkan insang yang menyebabkan air masuk ke dalam rongga mantel. Kemudian dengan menggerakkan bulu insang, plankton yang masuk akan berkumpul di sekeliling insang, selanjutnya melalui gerakan labial palp plankton akan masuk ke dalam mulut (Sutaman, 1993).

2.2. Pemijahan
            Pemijahan merupakan faktor penentu dalam kegiatan pembenihan. Pemijahan kerang mutiara pada hatchery biasanya didahului dengan perangsangan dan rangsangan berupa manipulasi suhu. Sebelum pemijahan, kualitas air disesuaikan dengan dengan kualitas air dimana induk tersebut diambil. Penyesuaian kualitas air bertujuan untuk menghindari terjadinya pemijahan secara liar (Tomatala, 2011).
            Pemijahan adalah proses pelepasan gamet oleh individu jantan dan betina. Kerang yang mendapat perlakuan menaikkan dan menurunkan suhu air ternyata melakukan pemijahan, sedangkan pada kontrol tidak ditemukan adanya pemijahan. Diasumsikan pemijahan terjadi disebabkan oleh adanya perubahan suhu (Tomatala, 2011). Fallu (1991) dalam Tomatala (2011), menyatakan bahwa perubahan temperatur air secara mendadak dapat menyebabkan induk kerang melepaskan gametnya. Hal ini senada dengan pernyataan Stoeckel dkk. (2004) dalam Tomatala (2011), sejumlah besar spesies melakukan pemijahan bilamana terjadi perubahan lingkungan.


            Pemijahan yang terjadi didahului gejala-gejala tekanan yang ditandai dengan pergerakan cangkang (buka tutup cangkang) dengan cepat dan terjadi pelepasan tinja. Saat melakukan pemijahan, cangkang terbuka dan gamet (sperma dan telur) disemburkan ke luar tubuh. Gamet yang dikeluarkan terlihat menyerupai kepulan asap. Pelepasan gamet tidak terjadi secara serempak melainkan bertahap (Tomatala, 2011).
            Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pemijahan dari kedua perlakuan ternyata tidak berbeda jauh. Kerang yang dirangsang dengan menaikkan suhu air mengeluarkan gametnya 15-25 menit setelah perangsangan, sedangkan 17-27 menit untuk kerang yang dirangsang dengan menurunkan suhu air. Ini menandakan bahwa perubahan lingkungan akan mempengaruhi pemijahan (Tomatala, 2011). Pada kontrol tidak ada kerang yang memijah. Ini diakibatkan karena tidak terjadi perubahan lingkungan yang disebabkan oleh tidak adanya perangsangan (Tomatala, 2011). Menurut Winanto (2004) dalam Tomatala (2011), perlu adanya rekayasa pemijahan jika secara alami kerang mutiara tidak mau memijah.

2.3. Penetasan Telur
Penetasan telur dimulai dengan proses pembelahan sel yang terjadi setelah ± 50 menit pembuahan. 20 menit kemudian sel membelah menjadi dua, lalu 35 menit berikutnya sel membelah menjadi 4 sel, 8sel, 16 sel, 32 sel sampai membelah menjadi multi sel. Fase morula dicapai setelah 3 jam. Fase blastula dicapai setelah larva berumur 3,3 jam, pada fase ini gerakan larva mulai aktif berputar-putar, kemudian fase selanjutnya adalah fase grastula. Pada fase grastula, larva ini mulai dipindahkan dari wadah volume 30 liter kedalam bak penetasan dengan volume 5 ton sebanyak 8 buah. bak ini sekaligus sebagai bak pemeliharaan larva.            


2.4. Pemeliharaan Larva Dan Benih
            Pemeliharaan larva merupakan tahap yang paling kritis, karena sangat rawan akan kegagalan. Menurut Winanto (2004) dalam Saleh (2011), pemeliharaan larva hingga spat dapat berhasil apabila di perhatikan terjadinnya stadia-stadia kritis. Pemeliharaan larva hingga spat akan berhasil jika memperhatikan terjadinya periode kritis. Selama pertumbuhan, larva mengalami tiga kali periode kritis yaitu pada fase D, fase umbo dan periode kritis yang ketiga yaitu pada fase plantigrade.
          
2.5. Pendederan
Kegiatan pendederan ini merupakan kegiatan lanjutan dari pemeliharaan spat. Pemeliharaan spat ini selama 40 hari baru dilakukan pemindahan spat ke lokasi pendederan dilaut. Hal ini tidak berbeda jauh dengan apa yang dikemukakan oleh Winanto (2004) bahwa, setelah spat berumur 50-60 hari atau setelah mencapai ukuran 3-5 mm DVM dapat dipindahkan ketempat pendederan dilaut.
            Pada masa pendederan khususnya, dibutuhkan penanganan ekstra hati-hati dan cermat karena kondisi spat yang baru dipindahkan dari wadah pemeliharaan spat yang masih sangat sensitif dan muda stress. Hal ini dikarenakan pemeliharaan spat ditumbuhkan dalam kondisi terkendali, bahkan kondisi lingkungan direkayasa sehingga mendekati atau serupa dengan kondisi dialam. Namun sebaliknya setelah berada dialam, spat tidak saja harus beradaptasi degan lingkungan yang fluktuatif, tetapi juga harus berkompetisi dalam hal ruang dan pakan, serta berhadapan dengan kompetitor dan predator. Sehingga hal ini juga perlu mendapat perhatian yang serius.
Kegiatan pendederan ini dilakukan dengan cara, spat yang masih menempel pada kolektor dimasukkan kedalam kantong waring dengan lebar mata 1 mm. Tujuan dari pembungkusan dengan kantong waring ini untuk mencegah agar spat tidak dimangsa oleh predator dan untuk mengurangi penempelan kotoran. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Winanto (2004) bahwa, ukuran mata jaring yang terlalu kecil kurang baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup spat, hal ini dikarenakan bisa menghambat sirkulasi air, suplai pakan, dan penanganan lebih sulit. Sebaliknya, mata jaring terlalu besar juga tidak baik, karena predator mudah untuk masuk. Kantong waring yang baik untuk pembungkusan spat yang masih menempel pada kolektor adalah ukuran 1-2 mm.
Selama pemeliharaan awal dilaut, spat memerlukan penanganan yang baik, hati-hati, dan tidak kasar. Perawatan seperti pembersihan tempat pemeliharaan dan penjarangan akan sangat membantu meningkatkan kelangsungan hidup spat. Pemeliharaan awal spat-spat yang baru dipindahkan dari laboratorium, tetap dibiarkan menempel pada kolektor dan diselubungi kantong jaring bermata 1 mm. pemeliharaan ini dilakukan dengan menggunakan tali rentang (long line) dengan kedalaman 4 m. hal ini sesuai dengan pendapat dari (Winanto 2004) bahwa, spat yang baru dipelihara dilaut dapat dilakukan dengan digantung pada tali rentang atau digantung pada rakit apung dengan kedalaman 3-4 m. Untuk menjaga agar keranjang pemeliharaan tidak banyak bergerak karena diterpa arus maka bagian bawah keranjang diberi pemberat dengan menggunakan batu yang diikat. Kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah hanya mengganti kantong jaring setiap 2 minggu atau tergantung dari tingkat kotoran dan organisme penempel

2.6. Pemanenan/Penjarangan
Penjarangan spat yang dilakukan dilaut dengan tujuan untuk mengurangi tingkat kepadatan spat per satuan ruang agar tidak terjadi kompetisi antara spat terhadap ruang pemeliharaan, dan untuk mendapatkan pakan. Dengan penjarangan ini diharapkan pertumbuhan spat menjadi normal dan tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi. Penjarangan ini dilakukan setelah spat mencapai ukuran 2-3 cm atau setelah pemeliharaan 2-3 bulan dilaut.
Spat atau bibit ini kemudian dimasukkan kedala sekat-sekat Pocket net dari kepadatan 80-100 ekor per keranjang menjadi 60-80 ekor per keranjang pada kedalaman 3 m pada sarana tali rentang selama 3-5 bulan. Pada tahap pemeliharaan ini spat belum dapat hidup pada arus yang terlalu kuat. Kemudian spat digrading kembali menjadi 40-60 ekor setelah ukuran tiram mencapai 3 cm. pada proses selanjutnya tiram digrading menjadi 20-40 ekor, 12-16 ekor, 10 ekor dan 8 ekor per keranjang sampai siap operasi dan dipelihara selama 10-12 bulan.
Teknik penjarangan dilakukan denghan cara sebagai berikut :
  1. Angkat kolektor dari tali rentang (long line) yang dalam laut dan lepas kantong jaring. Spat dalam kolektor ini lalu dibawah ke rumah rakit untuk dilakukan  penjarangan.
  2. Dikelurkan substrat berupa serabut tali atau paranet dari setiap kantong kolektor.
  3. Dipisahkan satu per satu spat yang menempel secara bergerombol. Saat pemisahan jangan sampai bissusnya tercabut, ini dilakukan dengan menggunakan pisau untuk memotong bissus.
  4. Hasil pemisahan ini ditampung didalam bak fiber glass yang berisi air laut.
  5. Setelah itu baru spat dimasukkan kedalam keranjang jaring (waring) dengan ukuran 40 cm x 60 dengan kepadatan 50-60 ekor.
  6. Setelah itu keranjang pemeliharaan ditutup kembali dengan kantong jaring, yang bermata jaring 3 mm, lalu digantung ketempat pemeliharaan padalong line dengan kedalaman 6 m.
            Pemeliharaan pasca penjarangan tetap perlu diperhatikan. Setiap bulan dilakukan pergantan kantong jaring. Jika kepadatan atau tingkat kotoran dan organisme penempel rendah maka setelah 1-2 bulan dari penjarangan tidak perlu diberi kantong jaring (Winanto, 2004). Kegiatan pemanenan pada masa pendederan ini dilakukan pada  tiram dengan ukuran spat 5-6 cm untuk dilakukan pembesaran. Pemanenan dilakukan dengan cara  mengambil spat satu per satu,  ini digunakan  pisau untuk memotong bissus agar mengurangi stress atau mengurangi angka kematian akibat  dari penanganan ini. Pada waktu yang bersamaan, sekaligus dilakukan pembersihan cangkang dan dilakukan seleksi untuk spat yang akan dibesarkan.





                                                                                                                                               



            III.      PENUTUP

3.1. Kesimpulan
 Kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
3.1.1.      Sarana pemeliharaan tiram mutiara pada umumnya dilakukan dengan metode pemeliharaan gantungan (hanging culture method), pada prinsipnya metode ini terdiri dari alat gantungan dan tempat untuk meletakkan gantungan. Metode pemeliharaan gantungan dibagi lagi menjadi dua metode yaitu, metode rakit terapung (floating raft method) dan metode tali rentang (long line method).
3.1.2.      kegiatan pemijahan adalah induk dipuasakan selama 24 jam, yang kedua induk diberi pakan phytoplankton dengan dosis tinggi, dan yang ketiga adalah memberikan perangsangan dengan bahan kimia. Induk dipuasakan selama 24 jam ini dengan tujuan untuk perbaikan kualitas sel gonad juga sebagai salah satu manipulasi untuk perangsangan pemijahan terhadap induk tiram yang sedang matang gonad. Tahap yang kedua adalah memberikan pakan dengan kepadatan tinggi, berupa beberapa campuran jenis fitoplankton kedalam bak pemijahan.
3.1.3.    Pada fase grastula, larva ini mulai dipindahkan dari wadah volume 30 liter kedalam bak penetasan dengan volume 5 ton sebanyak 8 buah. bak ini sekaligus sebagai bak pemeliharaan larva.
3.1.4.      Selama pertumbuhan larva mengalami tiga masa krisis. Pertama, pada fase D, yaitu pertama kali larva mulai makan  sehingga perlu di sediakan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva. Kritis kedua, terjadi pada fase umbo. Kondisi larva sangat sensitif karena mengalami metamorfosis. Tandanya adalah terdapat penonjolan umbo, terutama fase umbo akhir atau fase bintik hitam (eye spot) atau fase pedifeliger. Fase kritis yang terakhir adalah fase pantigride, larva mengalami perubahan kebiasaan hidup dari sifat plantonis (spatfal) menjadi spat yang hidupnya menetap (sesil bentik) di dasar.
3.1.5.      Pendederan dilakukan setelah spat berumur selama 40 hari baru dilakukan pemindahan spat ke lokasi pendederan dilaut dan dimasukkan kedalam kantong waring dengan lebar mata 1 mm.
3.1.6.      Penjarangan ini dilakukan setelah spat mencapai ukuran 2-3 cm atau setelah pemeliharaan 2-3 bulan dilaut.

























DAFTAR PUSTAKA

Chellam, A. 1987. Biology of Pearl Oyster Pinctada fucata (Gould). Central Marine Fisheries Research Institute. India. 136p. dalam Tomatala, P. 2011. Pengaruh Suhu terhadap Pemijahan Kerang Mutiara (Pinctada maxima). Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, VIII: 1.

Fallu, R. 1991. Abalone Farming. Fishing News Books. England. 195p. dalam Tomatala, P. 2011. Pengaruh Suhu terhadap Pemijahan Kerang Mutiara (Pinctada maxima). Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, VIII: 1.

Sutaman. 1993. Tiram Mutiara, Teknik Budidaya dan Proses Pembuatan Mutiara. Yogyakarta: Kanisius.

Tomatala, P. 2011. Pengaruh Suhu terhadap Pemijahan Kerang Mutiara (Pinctada maxima). Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, VIII: 1.

Winanto, T. 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Jakarta: Penebar Swadaya. dalam Tomatala, P. 2011. Pengaruh Suhu terhadap Pemijahan Kerang   Mutiara (Pinctada maxima). Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, VIII: 1.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar