TUGAS MATA KULIAH
TEKNIK
PEMBENIHAN IKAN
TIRAM MUTIARA
(Pinctada maxima)
Disusun
oleh:
Muh. Nur Sihabuddin 26010212130078
Amanda Damai Setyani
26010212130080
Muji Widjarnarko
26010212130081
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Oyster
atau lebih dikenal sebagai tiram mutiara termasuk bivalvia. Tiram mutiara dapat
dimanfaatkan dalam kebutuhan konsumsi maupun kebutuhan non konsumsi. Dari segi
konsumsi tiram mutiara dapat diambil dagingnya sebagai bahan pangan. Dari segi
non konsumsi tiram mutiara diambil mutiaranya sebagai perhiasan. Permintaan
yang tinggi dan teknik budidaya yang rumit membuat tiram mutiara termasuk pada
komoditas ekonomi yang penting. Budidaya tiram mutiara dapat dijadikan solusi
untuk pemenuhan kebutuhan mutiara yang tinggi, sehingga dapat mengurangi
pengambilan dari alam.
Menurut Saleh
(2011), di Indonesia kegiatan budidaya tiram mutiara sudah cukup lama
berkembang. Bahkan sampai pada saat ini ada lebih 65 perusahan, baik dalam
bentuk modal asing maupun dalam bentuk modal dalam negeri. Tuntutan utama dalam
budidaya mutiara adalah tersedianya tiram mutiara ukuran operasi dalam jumlah
yang cukup, tepat waktu, dan berkesenambungan. Namun, keuntungan penyediaan
tiram tidak mungkin hanya mengandalkan hasil penyelaman di alam, apalagi hasil
penyelaman di alam sangat fluktuatif, tergantung musim, dan ukurannya tidak
seragam. Mutiara yang ukurannya di bawah standar harus dipelihara sampai besar
sehingga diperlukan waktu dan tambahan biaya yang tidak sedikit.
Mengingat lokasi budidaya di laut yang dipengaruhi oleh alam dan
sekitarnya, sehingga membudidayakan tiram mutiara haruslah menyesuaikan dengan
kondisi alam atau perairan sekitarnya sebagai tempat hidupnya dengan kehidupan
biologis dan fisiologis dari tiram mutiara yang dipelihara, dengan tujuan agar
tiram hidup dengan baik.
1.2. Perumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana
cara pemeliharaan dan seleksi induk Tiram Mutiara.?
1.2.2. Bagaimana
teknik pemijahan Tiram Mutiara.?
1.2.3. Bagaimana
cara penetasan telur Tiram Mutiara.?
1.2.4. Bagaimana
cara pemeliharaan larva Tiram Mutiara.?
1.2.5. Bagaimana
cara pendederan Tiram Mutiara.?
1.2.6. Bagaimana
cara pemanenan Tiram Mutiara.?
1.3.Tujuan
1.3.1. Untuk
mengetahui cara pemeliharaan dan seleksi induk Tiram Mutiara.
1.3.2. Untuk
mengetahui teknik pemijahan Tiram Mutiara.
1.3.3. Untuk
mengetahui cara penetasan telur Tiram Mutiara.
1.3.4. Untuk
mengetahui cara pemeliharaan larva Tiram Mutiara.
1.3.5. Untuk
mengetahui cara pendederan Tiram Mutiara.
1.3.6. Untuk
mengetahui cara pemanenan Tiram Mutiara.
II.
ISI
2.1. Pemeliharaan Induk
Induk
kerang yang digunakan untuk pemijahan biasanya adalah induk hasil tangkapan
dari alam yang telah didomestifikasi. Kerang yang digunakan dalam pemijahan
adalah kerang yang benar-benar matang gonad (TKG IV) berdasarkan klasifikasi
menurut (Chelman, 1987) dalam (Tomatala, 2011). Kerang yang telah dipilih
kemudian dibersihkan dari biofouling
yang menempel. Selain itu, dilakukan juga pengukuran kualitas air (suhu, salinitas,
dan pH) dimana kerang tersebut ditangkap. Kerang yang telah dibersihkan
kemudian dipisahkan antara jantan dan betina, kemudian diletakkan pada bak kaca
serat dan diberi pakan berupa Tetraselmis sp. Sekitar 30 menit setelah
pemberian pakan, kerang diambil dan diletakkan dalam keranjang dengan kepadatan
10 individu/keranjang.
Pertumbuhan tiram mutiara sangat
tergantung pada suhu air, salinitas, makanan yang cukup dan persentase kimia
dalam air laut. Tiram mutiara dapat tumbuh dengan baik pada musim panas dimana
suhu air tinggi. Tiram mutiara adalah protandrous-hermaphrodite dengan
kecenderungan perbandingan jantan : betina = 1 : 1, dengan adanya peningkatan
umur. Pemijahan sering terjadi akibat perubahan suhu yang ekstrem atau tejadi
perubahan lingkungan yang tiba-tiba. Pemijahan tiram mutiara di perairan tropis
tidak terbatas hanya satu musim, tapi bisa sepanjang tahun. P. Margaritifera
mendekati matang gonad pada tahun kedua, sedangkan P. maxima jantan
matang gonad setelah berukuran cangkang 110-120 mm dalam tahun pertama
hidupnya. Pertumbuhan merupakan aspek biologi yang penting bagi pembudidaya
terkait dengan pendugaan keberhasilan usahanya. Tiram mutiara P.margaritifera
mencapai ukuran diameter cangkang 7-8cm dalam tahun pertama, dan mendekati
ukuran sekitar 11 cm pada tahun kedua. Pertumbuhan jenis lain, P. maxima,
mencapai diameter cangkang 10—16 cm pada tahun kedua (Sutaman, 1993).
Cara makan tiram mutiara dilakukan
dengan menyaring air laut dengan cara mengambil makanan dilakukan dengan menggetarkan
insang yang menyebabkan air masuk ke dalam rongga mantel. Kemudian dengan
menggerakkan bulu insang, plankton yang masuk akan berkumpul di sekeliling
insang, selanjutnya melalui gerakan labial palp plankton akan masuk ke dalam
mulut (Sutaman, 1993).
2.2. Pemijahan
Pemijahan
merupakan faktor penentu dalam kegiatan pembenihan. Pemijahan kerang mutiara
pada hatchery biasanya didahului
dengan perangsangan dan rangsangan berupa manipulasi suhu. Sebelum pemijahan,
kualitas air disesuaikan dengan dengan kualitas air dimana induk tersebut
diambil. Penyesuaian kualitas air bertujuan untuk menghindari terjadinya
pemijahan secara liar (Tomatala, 2011).
Pemijahan
adalah proses pelepasan gamet oleh individu jantan dan betina. Kerang yang
mendapat perlakuan menaikkan dan menurunkan suhu air ternyata melakukan
pemijahan, sedangkan pada kontrol tidak ditemukan adanya pemijahan. Diasumsikan
pemijahan terjadi disebabkan oleh adanya perubahan suhu (Tomatala, 2011). Fallu
(1991) dalam Tomatala (2011), menyatakan bahwa perubahan temperatur air secara
mendadak dapat menyebabkan induk kerang melepaskan gametnya. Hal ini senada
dengan pernyataan Stoeckel dkk. (2004) dalam Tomatala (2011), sejumlah besar
spesies melakukan pemijahan bilamana terjadi perubahan lingkungan.
Pemijahan
yang terjadi didahului gejala-gejala tekanan yang ditandai dengan pergerakan
cangkang (buka tutup cangkang) dengan cepat dan terjadi pelepasan tinja. Saat
melakukan pemijahan, cangkang terbuka dan gamet (sperma dan telur) disemburkan
ke luar tubuh. Gamet yang dikeluarkan terlihat menyerupai kepulan asap.
Pelepasan gamet tidak terjadi secara serempak melainkan bertahap (Tomatala,
2011).
Waktu
yang dibutuhkan untuk melakukan pemijahan dari kedua perlakuan ternyata tidak
berbeda jauh. Kerang yang dirangsang dengan menaikkan suhu air mengeluarkan
gametnya 15-25 menit setelah perangsangan, sedangkan 17-27 menit untuk kerang
yang dirangsang dengan menurunkan suhu air. Ini menandakan bahwa perubahan
lingkungan akan mempengaruhi pemijahan (Tomatala, 2011). Pada kontrol tidak ada
kerang yang memijah. Ini diakibatkan karena tidak terjadi perubahan lingkungan
yang disebabkan oleh tidak adanya perangsangan (Tomatala, 2011). Menurut
Winanto (2004) dalam Tomatala (2011), perlu adanya rekayasa pemijahan jika secara
alami kerang mutiara tidak mau memijah.
2.3. Penetasan Telur
Penetasan
telur dimulai dengan proses pembelahan sel yang terjadi setelah ± 50 menit
pembuahan. 20 menit kemudian sel membelah menjadi dua, lalu 35 menit berikutnya
sel membelah menjadi 4 sel, 8sel, 16 sel, 32 sel sampai membelah menjadi multi
sel. Fase morula dicapai setelah 3 jam. Fase blastula dicapai setelah larva
berumur 3,3 jam, pada fase ini gerakan larva mulai aktif berputar-putar,
kemudian fase selanjutnya adalah fase grastula. Pada fase grastula, larva ini
mulai dipindahkan dari wadah volume 30 liter kedalam bak penetasan dengan
volume 5 ton sebanyak 8 buah. bak ini sekaligus sebagai bak pemeliharaan larva.
2.4. Pemeliharaan Larva Dan Benih
Pemeliharaan
larva merupakan tahap yang paling kritis, karena sangat rawan akan kegagalan.
Menurut Winanto (2004) dalam Saleh (2011), pemeliharaan larva hingga spat
dapat berhasil apabila di perhatikan terjadinnya stadia-stadia kritis. Pemeliharaan larva hingga spat
akan berhasil jika memperhatikan terjadinya periode kritis. Selama pertumbuhan,
larva mengalami tiga kali periode kritis yaitu pada fase D, fase umbo dan
periode kritis yang ketiga yaitu pada fase plantigrade.
2.5. Pendederan
Kegiatan pendederan ini
merupakan kegiatan lanjutan dari pemeliharaan spat. Pemeliharaan spat ini
selama 40 hari baru dilakukan pemindahan spat ke lokasi pendederan dilaut. Hal
ini tidak berbeda jauh dengan apa yang dikemukakan oleh Winanto (2004) bahwa,
setelah spat berumur 50-60 hari atau setelah mencapai ukuran 3-5 mm DVM dapat
dipindahkan ketempat pendederan dilaut.
Pada masa pendederan
khususnya, dibutuhkan penanganan ekstra hati-hati dan cermat karena kondisi
spat yang baru dipindahkan dari wadah pemeliharaan spat yang masih sangat
sensitif dan muda stress. Hal ini dikarenakan pemeliharaan spat ditumbuhkan
dalam kondisi terkendali, bahkan kondisi lingkungan direkayasa sehingga
mendekati atau serupa dengan kondisi dialam. Namun sebaliknya setelah berada
dialam, spat tidak saja harus beradaptasi degan lingkungan yang fluktuatif,
tetapi juga harus berkompetisi dalam hal ruang dan pakan, serta berhadapan
dengan kompetitor dan predator. Sehingga hal ini juga perlu mendapat perhatian
yang serius.
Kegiatan pendederan ini dilakukan dengan cara, spat yang masih menempel
pada kolektor dimasukkan kedalam kantong waring dengan lebar mata 1 mm. Tujuan
dari pembungkusan dengan kantong waring ini untuk mencegah agar spat tidak
dimangsa oleh predator dan untuk mengurangi penempelan kotoran. Hal ini sesuai
dengan pendapat dari Winanto (2004) bahwa, ukuran mata jaring yang terlalu
kecil kurang baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup spat, hal ini
dikarenakan bisa menghambat sirkulasi air, suplai pakan, dan penanganan lebih
sulit. Sebaliknya, mata jaring terlalu besar juga tidak baik, karena predator
mudah untuk masuk. Kantong waring yang baik untuk pembungkusan spat yang masih
menempel pada kolektor adalah ukuran 1-2 mm.
Selama pemeliharaan awal
dilaut, spat memerlukan penanganan yang baik, hati-hati, dan tidak kasar.
Perawatan seperti pembersihan tempat pemeliharaan dan penjarangan akan sangat
membantu meningkatkan kelangsungan hidup spat. Pemeliharaan awal spat-spat yang baru dipindahkan dari laboratorium, tetap dibiarkan
menempel pada kolektor dan diselubungi kantong jaring bermata 1 mm.
pemeliharaan ini dilakukan dengan menggunakan tali rentang (long line) dengan kedalaman 4 m. hal ini sesuai dengan pendapat dari (Winanto
2004) bahwa, spat yang baru dipelihara dilaut dapat dilakukan dengan digantung
pada tali rentang atau digantung pada rakit apung dengan kedalaman 3-4 m. Untuk
menjaga agar keranjang pemeliharaan tidak banyak bergerak karena diterpa arus
maka bagian bawah keranjang diberi pemberat dengan menggunakan batu yang
diikat. Kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah hanya mengganti kantong
jaring setiap 2 minggu atau tergantung dari tingkat kotoran dan organisme
penempel
2.6. Pemanenan/Penjarangan
Penjarangan spat yang
dilakukan dilaut dengan tujuan untuk mengurangi tingkat kepadatan spat per
satuan ruang agar tidak terjadi kompetisi antara spat terhadap ruang
pemeliharaan, dan untuk mendapatkan pakan. Dengan penjarangan ini diharapkan
pertumbuhan spat menjadi normal dan tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi.
Penjarangan ini dilakukan setelah spat mencapai ukuran 2-3 cm atau setelah
pemeliharaan 2-3 bulan dilaut.
Spat atau bibit ini kemudian dimasukkan kedala sekat-sekat Pocket net
dari kepadatan 80-100 ekor per keranjang menjadi 60-80 ekor per keranjang pada
kedalaman 3 m pada sarana tali rentang selama 3-5 bulan. Pada tahap
pemeliharaan ini spat belum dapat hidup pada arus yang terlalu kuat. Kemudian
spat digrading kembali menjadi 40-60 ekor setelah ukuran tiram mencapai 3 cm.
pada proses selanjutnya tiram digrading menjadi 20-40 ekor, 12-16 ekor, 10 ekor
dan 8 ekor per keranjang sampai siap operasi dan dipelihara selama 10-12 bulan.
Teknik penjarangan dilakukan denghan cara sebagai berikut :
- Angkat kolektor dari tali rentang (long line) yang dalam
laut dan lepas kantong jaring. Spat dalam kolektor ini lalu dibawah ke
rumah rakit untuk dilakukan penjarangan.
- Dikelurkan substrat berupa serabut tali atau
paranet dari setiap kantong kolektor.
- Dipisahkan satu per satu spat yang menempel
secara bergerombol. Saat pemisahan jangan sampai bissusnya tercabut, ini
dilakukan dengan menggunakan pisau untuk memotong bissus.
- Hasil pemisahan ini ditampung didalam bak
fiber glass yang berisi air laut.
- Setelah itu baru spat dimasukkan kedalam
keranjang jaring (waring) dengan ukuran 40 cm x 60 dengan kepadatan 50-60
ekor.
- Setelah itu keranjang pemeliharaan ditutup
kembali dengan kantong jaring, yang bermata jaring 3 mm, lalu digantung
ketempat pemeliharaan padalong
line dengan kedalaman 6 m.
Pemeliharaan
pasca penjarangan tetap perlu diperhatikan. Setiap bulan dilakukan pergantan
kantong jaring. Jika kepadatan atau tingkat kotoran dan organisme penempel
rendah maka setelah 1-2 bulan dari penjarangan tidak perlu diberi kantong
jaring (Winanto, 2004). Kegiatan pemanenan pada masa
pendederan ini dilakukan pada tiram dengan ukuran spat 5-6 cm untuk
dilakukan pembesaran. Pemanenan dilakukan dengan cara mengambil spat satu
per satu, ini digunakan pisau untuk memotong bissus agar mengurangi
stress atau mengurangi angka kematian akibat dari penanganan ini. Pada
waktu yang bersamaan, sekaligus dilakukan pembersihan cangkang dan dilakukan
seleksi untuk spat yang akan dibesarkan.
III.
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai
berikut:
3.1.1.
Sarana pemeliharaan tiram mutiara pada
umumnya dilakukan dengan metode pemeliharaan gantungan (hanging culture method), pada prinsipnya metode ini
terdiri dari alat gantungan dan tempat untuk meletakkan gantungan. Metode
pemeliharaan gantungan dibagi lagi menjadi dua metode yaitu, metode rakit
terapung (floating raft method) dan metode tali rentang (long line method).
3.1.2.
kegiatan pemijahan adalah induk dipuasakan selama 24 jam, yang
kedua induk diberi pakan phytoplankton dengan dosis tinggi, dan yang ketiga adalah
memberikan perangsangan dengan bahan kimia. Induk dipuasakan selama 24 jam ini
dengan tujuan untuk perbaikan kualitas sel gonad juga sebagai salah satu
manipulasi untuk perangsangan pemijahan terhadap induk tiram yang sedang matang
gonad. Tahap yang kedua adalah memberikan pakan dengan kepadatan tinggi, berupa
beberapa campuran jenis fitoplankton kedalam bak pemijahan.
3.1.3. Pada
fase grastula, larva ini mulai dipindahkan dari wadah volume 30 liter kedalam
bak penetasan dengan volume 5 ton sebanyak 8 buah. bak ini sekaligus sebagai
bak pemeliharaan larva.
3.1.4.
Selama pertumbuhan larva mengalami tiga masa
krisis. Pertama, pada fase D, yaitu pertama kali larva mulai makan
sehingga perlu di sediakan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulut
larva. Kritis kedua, terjadi pada fase umbo. Kondisi larva sangat sensitif
karena mengalami metamorfosis. Tandanya adalah terdapat penonjolan umbo,
terutama fase umbo akhir atau fase bintik hitam (eye spot) atau fase
pedifeliger. Fase kritis yang terakhir adalah fase pantigride, larva mengalami
perubahan kebiasaan hidup dari sifat plantonis (spatfal) menjadi
spat yang hidupnya menetap (sesil bentik) di dasar.
3.1.5.
Pendederan dilakukan setelah spat berumur
selama 40 hari baru dilakukan pemindahan spat ke lokasi pendederan dilaut dan
dimasukkan kedalam kantong waring dengan lebar mata 1 mm.
3.1.6.
Penjarangan ini dilakukan setelah spat
mencapai ukuran 2-3 cm atau setelah pemeliharaan 2-3 bulan dilaut.
DAFTAR
PUSTAKA
Chellam, A. 1987. Biology of
Pearl Oyster Pinctada fucata (Gould).
Central Marine Fisheries Research Institute. India. 136p. dalam Tomatala, P.
2011. Pengaruh Suhu terhadap Pemijahan
Kerang Mutiara (Pinctada maxima). Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, VIII:
1.
Fallu, R.
1991. Abalone Farming. Fishing News
Books. England. 195p. dalam Tomatala,
P. 2011. Pengaruh Suhu terhadap Pemijahan
Kerang Mutiara (Pinctada
maxima). Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, VIII: 1.
Sutaman. 1993. Tiram Mutiara, Teknik Budidaya dan Proses Pembuatan Mutiara. Yogyakarta: Kanisius.
Tomatala,
P. 2011. Pengaruh Suhu terhadap Pemijahan
Kerang Mutiara (Pinctada maxima).
Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, VIII: 1.
Winanto,
T. 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara.
Jakarta: Penebar Swadaya. dalam Tomatala, P. 2011. Pengaruh Suhu terhadap
Pemijahan Kerang Mutiara (Pinctada maxima). Jurnal Perikanan dan
Kelautan Tropis, VIII: 1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar